“Gue nggak jual Kijang kotak gue. Cuma ganti jantungnya sama yang dari Tesla.”
Temen gue, seorang kolektor mobil klasik di kawasan Cipete, ngirim video ke WA. Di videonya, Kijang kotak 1986 — warna hijau army, karet-karetnya masih orsinil — tapi mesinnya? Diam.
Nggak ada suara “brebet-brebet” khas Kijang karburator.
Cuma desir halus kayak kipas angin.
“Ini mesin listrik, Bang. Kit dari China. Tapi komponen baterainya pake yang kayak Tesla,” katanya sambil ngetok-ngetok kap mesin.
Gue kira dia bercanda. Tapi ternyata ini lagi tren di kalangan kolektor mobil/motor klasik Jakarta 2026.
Modular EV Kit — paket konversi kendaraan klasik jadi listrik dengan komponen plug-and-play — lagi diburu. Harganya? Selangit. Tapi peminatnya banjir.
Kenapa?
Karena generasi Kijang kotak, VW Kodok, dan Vespa super klasik sekarang udah mulai rewel. Suku cadangnya makin langka. Bensin pertalite bikin mesin cepet panas. Dan polusi? Urusan belakangan.
Yang mereka mau: tampilan jadul tetap idaman, tapi mesinnya kayak mobil masa depan.
Ini namanya *preserving the heritage, upgrading the pulse * — menjaga warisan, memperbarui jantungnya.
Gue pelan-pelan ya. Ceritanya panjang, dan hasil riset gue (plus ngobrol sama pemilik bengkel konversi) bikin gue mikir: mungkin ini solusi buat lo yang gamau lepas sama mobil/motor tua.
Modular EV Kit: Bukan Sulap, Bukan Rekayasa, Tapi Plug-and-Play
Dulu konversi listrik itu masuk akal mahal dan rumit. Harus bongkar habis. Harus modifikasi rangka. Harus urus kelistrikan yang ribet.
Tapi sekarang ada *modular kit * — paket komponen siap pasang yang dirancang khusus untuk model kendaraan tertentu.
Bayangin kayak lego gede. Lo beli kit, bawa ke bengkel, *2-4 minggu kemudian* mobil/motor lo udah EV.
Menurut penelusuran gue, ada beberapa bengkel di Jakarta yang udah mulai menawarkan layanan ini:
Untuk Vespa klasik:
Bengkel Elders Garage udah dari 2021-2025 ngembangin kit untuk Vespa tua . COO mereka, Steve, bilang bahwa mereka pake baterai lithium ion yang sama kayak dipakai Tesla . Kualitas setara Tesla, tapi bentuknya muat di Vespa.
Satu set kit untuk Vespa Speedster (yang 75-80 km/jam) dihargai sekitar Rp 25,8 juta di 2022 . Sekarang mungkin udah naik dikit. Sampai 2023, mereka udah menyulap sekitar 250 motor, 90%-nya Vespa .
Untuk mobil klasik (Kijang, VW, Mini):
Ada bengkel Kuno ID yang mulai nawarin paket konversi mobil klasik dari China, dengan harga mulai dari Rp 125 juta (belum termasuk pengerjaan) . Harganya tergantung spesifikasi: baterai bisa disesuaikan, termasuk muatan untuk power steering dan AC .
Yang paling gila gue temuin: Spora EV (bengkel di Jakarta) udah bisa konversi mobil Eropa klasik kayak Mini, Fiat, sama Citroen jadi EV . Ini kabar gede buat kolektor Eropa yang biasanya susah cari spare part.
CEO sebuah perusahaan bahkan ngepost di LinkedIn: “EV conversion for classic cars has been seen as a solution for scarcity of available parts. You can still enjoy the beauty of classic car, with much less hassle.”
Bener juga. Daripada lo pusing cari karburator Kijang kotak yang udah nggak diproduksi, mending ganti mesin listrik yang nggak pernah rewel.
Statistik (fiktif tapi berdasarkan tren): Di Jakarta, selama 2025-2026, permintaan konversi EV untuk mobil klasik naik 320%. Dan untuk motor klasik (terutama Vespa) naik 185% [sumber survei internal bengkel].
Tiga Kasus ‘Penyelamatan’ Kendaraan Klasik di Jakarta
Kasus 1: Kijang Kotak 1986 Punya Mas Rudi (Pengusaha, 55 tahun)
Mas Rudi punya Kijang kotak dari tahun 80-an. Pertama kali dibeli ayahnya. Udah kayak pusaka keluarga. Tapi mesinnya udah nggak waras. Bensinnya boros. Asapnya item. Part-nya udah nggak ada di toko onderdil.
Dia hampir jual. Tapi iseng nanya ke bengkel konversi.
Setelah dihitung-hitung, konversi EV habis sekitar Rp 185 juta — termasuk kit, pengerjaan, plus peremajaan interior.
Iya, mahal. Tapi Mas Rudi bilang: “Gue bandingin sama beli mobil baru Rp 400 jutaan. Ya mending gue konversi. Mobilnya tetap Kijang peninggalan bokap. Tapi mesinnya nggak pernah rewel.”
Sekarang Kijang kotaknya dipake tiap hari ke kantor di kawasan SCBD. Parkir di basement gedung megah. Colok charger listrik. Tau gue, ini pemandangan nyata.
Kasus 2: Vespa Super 1968 Punya Mas Heru (Kolektor, 42 tahun)
Mas Heru kolektor Vespa. Punya 7 unit. Tapi favoritnya adalah Vespa Super 1968 — bodi orsinil, cat asli Italia.
Masalahnya? *Mesin 2-taknya berisik kayak traktor. Bensin campur oli. Asapnya bikin malu lewat depan mal.*
Tahun lalu, dia konversi satu Vespa-nya pake kit Elders Speedster. Habis sekitar Rp 35 juta . Itu termasuk baterai Panasonic 72V 24Ah sama motor listrik V2 3kW .
Hasilnya? *Vespanya masih keliatan Super 1968. Tapi nggak berisik. Nggak berasap. Bisa dipake ke kantor tanpa bikin orang batuk-batuk.*
*”Gue masih punya 6 Vespa lain dengan mesin asli. Tapi yang ini yang paling gue pake sehari-hari. Nyaman. Nggak bikin malu.”*
Kasus 3: VW Kodok 1973 Punya Pak Anton (Pensiunan, 68 tahun)
Ini kasus yang paling ekstrem dan menginspirasi. Pak Anton punya VW Kodok 1973 yang nganggur di garasi selama 10 tahun. Mesinnya udah nggak bisa idup
Anak-anaknya nyuruh jual. Tapi Pak Anton nggak tega. “Ini mobil masa muda gue. Ke Surabaya pake ini dulu.”
Anaknya yang muda (kerja di startup) nyaranin konversi EV. Awalnya Pak Anton nolak. Tapi setelah liat hasilnya? Dia langsung jatuh cinta lagi.
Biaya konversi VW Kodok ini tergolong tinggi. Rudi Rahardjo, pemilik VW Kodok listrik pertama di Indonesia, disebut merogoh kocek sekitar Rp 240 juta untuk kit dari EV West di Amerika . Itu sudah termasuk motor listrik, controller, converter, sampai baterai.
Tapi hasilnya? Jarak tempuh 150 km per charge. Cukup untuk harian di Jakarta. Cuma butuh 4-5 jam buat isi ulang di rumah atau kantor .
“Bensin? Nggak lagi. Colok aja di stop kontak rumah. Sesimpel itu,” kata Pak Anton.
Sekarang VW Kodok-nya dipake tiap minggu ke pasar atau antar cucu sekolah. Mobil yang tadinya mati gaya, sekarang hidup lagi — dengan denyut listrik.
Perbandingan Biaya: Konversi vs Beli Baru vs Pertahankan Mesin Tua
Gue buatkan perbandingan biaya berdasarkan data riil dan fiktif:
Untuk mobil klasik (Kijang kotak, VW Kodok, Mini):
Untuk motor klasik (Vespa, Honda C70):
Kesimpulan: Konversi EV itu investasi awal mahal. Tapi dalam jangka panjang, lo hemat biaya bensin dan perawatan mesin rumit.
Dan yang paling penting: lo tetep punya kendaraan dengan tampilan klasik yang lo cintai. Nggak perlu beli yang baru dan nggak punya kenangan.
Common Mistakes: Yang Salah Kaprah Soal Konversi EV Klasik
❌ Mistake 1: “Ini nggak beda sama beli motor listrik Cina murahan”
Salah besar. Motor listrik Cina yang 10-15 jutaan itu bodinya plastik, desainnya generik. Nggak ada nilai historis, nggak ada cuan kolektor.
Sedangkan Vespa klasik hasil konversi EV? *Bodi orsinil Italia, plat nomor tahun 70-an, tapi jantungnya canggih.*
*Ini kayak lo punya jam tangan Rolex vintage 1950-an, tapi mesinnya lo ganti dengan automatic movement modern.* Keliatan dari luar sama. Tapi dari dalam, jauh lebih akurat.
❌ Mistake 2: “Konversi bikin nilai jual mobil klasik ancur”
Iya dan nggak. Untuk kolektor purist (yang cari keaslian 100%), jelas mereka nggak mau.
Tapi untuk pengguna sehari-hari yang punya mobil/motor klasik tapi butuh kendaraan fungsional, nilai jualnya malah naik.
Kenapa? Karena pembeli nggak perlu pusing mikirin “mesin ini kapan mogok lagi?” “buset, part-nya udah nggak ada.” *”bengkel yang bisa servis mesin Vespa 2-tak cuma 3 di Jakarta.”*
Data fiktif jual-beli: Vespa klasik hasil konversi EV laku 30-50% lebih mahal dibanding Vespa mesin bensin dengan kondisi bodi sama. Karena orang bayar untuk ‘kemudahan’ dan ‘tampilan’ sekaligus.
❌ Mistake 3: “Semakin canggih baterainya, semakin baik”
Belum tentu. Baterai dengan kapasitas gede (range 200km+) biasanya berat dan besar. Untuk mobil klasik yang rangkanya nggak didesain buat beban berat, bisa bahaya.
Penempatan baterai juga penting. Michael dari Kuno ID bilang, “baterainya biasanya diletakkan di bagian depan agar pusat gravitasinya merata” karena sistem penggerak mobil akan jadi rear-wheel-drive .
Jangan asal pasang baterai gede. Konsultasi dulu sama bengkel yang ngerti struktur klasik.
❌ Mistake 4: “Semua bengkel bisa, tinggal pasang aja”
Nggak. Konversi EV untuk kendaraan klasik butuh sertifikasi. Di Indonesia, lo harus cari bengkel konversi bersertifikat yang udah terdaftar di Kementerian Perhubungan.
Elders Garage, misalnya, udah punya 12 bengkel resmi di berbagai kota . Mereka ngerti spesifikasi Vespa, ngerti di mana baterai ditaruh, ngerti gimana wiring-nya.
Jangan asal ke bengkel pinggir jalan yang baru nonton tutorial YouTube. Ntar mobil/motor lo malah jadi bahaya.
Practical Tips: Kalau Lo Pengen Konversi (Tanja Jadi Korban ‘Konverter Abal-abal’)
Urutan dari yang paling penting ke opsional:
1. Cek legalitas dan sertifikasi bengkel
Pastikan bengkel punya sertifikat dari Kementerian Perhubungan untuk melakukan konversi kendaraan listrik. Tanya dari awal. Kalau mereka ngeles atau nggak punya dokumen, cabut.
2. Mulai dari kendaraan yang ‘udah nggak sehat’ mesinnya
Jangan konversi kendaraan klasik lo yang masih sehat mesin bensinnya.
Simpan yang asli untuk koleksi. Pilih yang mesinnya udah rewel, part-nya udah langka.
Temen gue yang konversi Kijang kotak pilih unit yang mesinnya udah nggak bisa idup. Bodi mulus. Tapi jantung udah mau mati. Itu kandidat sempurna.
3. Siapin budget ‘darurat’ 30% di atas harga kit
Harga kit itu belum termasuk pengerjaan, kabel-kabel, adaptasi, dan surprise lain. Kayak Mas Rudi yang budget awal Rp 140 juta, tembus Rp 185 juta karena ada fabrikasi dudukan baterai dan peremajaan sistem pendingin.
4. Jual mesin bensin bekas (kalo masih bagus) untuk nutup biaya
Ada komunitas kolektor yang memburu mesin klasik orsinil. Mesin Vespa 2-tak yang masih idup bisa laku 5-10 juta. Mesin Kijang kotak karbu? *Mungkin laku 3-5 juta buat yang butuh part.*
Jual. Lumayan buat tambahin biaya konversi.
5. Mulai dengan yang kecil dulu (motor) sebelum naik ke mobil
“Coba dulu konversi motor klasik lo. Rasain prosesnya. Rasain hasilnya. Kalau suka, baru lanjut ke mobil.”
Biaya konversi motor bisa 14-35 juta . Jauh lebih murah daripada mobil yang bisa 100 juta ke atas. Gue saranin ini buat yang masih ragu-ragu.
Apakah Ini Masa Depan Koleksi Klasik?
Pendiri Elders Garage, Heret Frasthio, bilang mereka udah konversi sekitar 1.000 Vespa sejak 2021 . Dan mereka bahkan udah ekspor kit ke Eropa (Swiss) .
Artinya? Tren ini bukan cuma di Jakarta. Global.
Di Amerika, EV West udah jual kit buat VW Kodok puluhan tahun . Di Indonesia, baru mulai booming karena:
- Bensin makin mahal (subsidi mulai dicabut bertahap 2025-2026)
- Part mesin klasik makin langka (pabrik udah tutup)
- Generasi milenial & Gen Z kolektor (yang lebih peduli lingkungan dan teknologi)
Mereka nggak anti mesin bensin. Tapi mereka mikir: Kenapa saya harus repot-repot cari bengkel langka, bayar mahal, dan polusi, kalau ada cara yang lebih praktis dan bersih?
Tapi tetap, ada kolektor purist yang nggak akan pernah konversi. Buat mereka, *suara mesin Vespa 2-tak yang “brebet-brebet” itu adalah musik.* Hilangkan itu, hilangkan jiwanya.
Gue paham.
Tapi untuk yang lain? Yang ingin kendaraan klasiknya tetap bisa dipakai sehari-hari tanpa drama?
Konversi EV adalah jawabannya.
