Pernah nggak sih, kamu ngeliat Corolla DX kotak lawas lewat, terus mikir “coba mobil ini tetep keren tapi nggak ngebakarin bensin”? Atau kamu salah satu kolektor yang rela ngeluarin duit gede buat ngerawat mobil klasik, tapi sering pusing nyari bengkel atau parts?
Gue ngerti banget. Di Jakarta yang macet dan penuh polusi ini, punya mobil klasik itu kayak punya harta karun—tapi kadang bikin frustrasi juga. Apalagi kalo udah ngomongin biaya bensin dan perawatan mesin yang makin mahal.
Nah, Agustus 2026 ini ada tren yang lagi naik daun: modifikasi retro-EV. Mobil-mobil legend kayak Corolla DX, Civic Estilo, bahkan Vespa klasik, diubah jadi listrik. Tapi bodinya tetep dipertahankan—lengkap dengan kesan retro yang bikin kita nostalgia. Konsepnya simpel: “Classic Never Fades” tapi mesinnya udah 100% modern dan ramah lingkungan .
Antara Romantisme dan Teknologi
Anak muda dan kolektor sekarang mulai gandrung sama restomod—istilah keren buat mobil klasik yang dimodernisasi. Di pameran IIMS 2025, misalnya, Corolla DX dan Civic Estilo bergaya retro-listrik jadi primadona. Tetap tampil dengan interior kayu klasik, tapi udah ada panel instrumen digital dan port charging di dalamnya .
Saya sempat test drive salah satu Estilo restomod itu. Sensasinya unik banget: kamu duduk di mobil jadul, nyetirnya terasa klasik, tapi tarikannya khas motor listrik—instan, halus, dan senyap. Nggak ada lagi suara mesin bising atau getaran khas mobil tua .
Nah, buat para petrolhead sejati, ini mungkin terdengar agak… kontroversial. “Mana ngaruh? Mobil klasik kudu kaya aslinya, mesin bensin itu jantungnya!” Ya, gue paham banget.
Tapi coba kita liat fakta lain: biaya operasional mobil listrik itu jauh lebih murah. Data studi di Indonesia nunjukkin, biaya per kilometer motor listrik cuma sekitar Rp 470 (asumsi tarif listrik Rp 1.500/kWh), sementara motor bensin dengan konsumsi 30-40 km/liter bisa habis sekitar Rp 1.600-Rp 2.000 per kilometer . Buat mobil, selisihnya makin gede. Bayangin, dalam 5 tahun pemakaian, penghematannya bisa puluhan juta.
Contoh Spesifik: Ini Bukan Sekadar Proyek
1. Elders Elettrico—Vespa Klasik Jadi Listrik
Di Jakarta, bengkel kustom Elders Garage udah konversi sekitar 1.000 Vespa sejak 2021 . Mereka bikin Vespa klasik (bahkan yang tahun 50-an) pakai motor listrik 3.000 Watt dengan top speed 80-85 km/jam. Pilihan baterai mulai dari jarak tempuh 60 km sampai 200 km, dan pengisian cuma 1,5 jam buat 0-100%. Kerennya, semua bagian bodi Vespa dipertahankan—lengkap sama cat “karatan” khas mereka yang justru bikin makin keren .
2. iCAR V23—Mobil Retro yang Bisa Dibongkar Pasang Sendiri
Mungkin ini yang paling hype: iCAR V23, SUV listrik dengan desain retro-boxy kayak Land Rover Defender klasik. Mobil ini didesain sebagai “toy car” alias mainan dewasa yang bisa dimodifikasi pake obeng. Ada lebih dari 20 titik modular di bodi yang bikin pengguna bisa pasang aksesori atau ganti tampilan seenaknya—mirip merakit Lego . Di IIMS 2026, pemesanannya udah tembus lebih dari 300 unit, dengan harga mulai Rp389,9 juta .
3. Volkswagen ID. Buzz Club Indonesia
Bukan restomod sih, tapi ini contoh lain gimana desain retro digabung sama teknologi EV. ID. Buzz adalah MPV listrik yang desainnya terinspirasi dari VW Kombi klasik. Komunitas resmi baru aja dibentuk di Bogor, dengan semangat nostalgia plus mobilitas ramah lingkungan .
Tapi, Emang Legal dan Ekonomis?
Nah, ini pertanyaan paling penting. Konversi mobil klasik ke listrik di Indonesia emang diatur. Pemerintah punya Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 15 Tahun 2022 yang mewajibkan bengkel konversi tersertifikasi, dan hasil modifikasi harus lolos uji tipe serta uji kelaikan jalan. Setelah itu, data STNK dan BPKB juga harus diubah .
Masalahnya, biaya konversi masih terbilang mahal. Estimasi untuk mobil mulai dari Rp300 juta sampai Rp800 juta, tergantung kapasitas baterai dan spesifikasi motor . Sebuah studi dari Universitas Indonesia bahkan nunjukkin bahwa Total Cost of Ownership (TCO) untuk EV retrofit rata-rata Rp495,9 juta, lebih tinggi dari EV pabrikan yang Rp301,6 juta .
Tapi, ada kabar baik. Pemerintah lagi ngomongin insentif baru buat kendaraan listrik, termasuk potensi program konversi . Kalo ini terealisasi, biaya retrofit bisa turun drastis dan jadi lebih masuk akal.
Praktis Tips: Panduan Buat yang Mau Nyoba
- Pilih bengkel tersertifikasi. Ini wajib. Jangan asal percaya bengkel yang ngaku bisa konversi tapi nggak punya izin resmi .
- Hitung TCO, bukan cuma biaya awal. Memang mahal di depan, tapi operasional dan perawatannya jauh lebih murah. Hitung payback period-nya .
- Cek regulasi terbaru. Aturan bisa berubah. Pastiin kamu ngikutin perkembangan kebijakan insentif dan legalitas.
- Pertimbangkan komunitas. Gabung sama komunitas kayak VW ID. Buzz Club atau klub Vespa klasik buat dapet info dan pengalaman dari sesama pengguna .
Kesalahan Umum yang Sering Dilakuin
- “Aku konversi sendiri di rumah, lebih murah.”
- Ini berbahaya. Konversi EV butuh keahlian teknis dan peralatan khusus. Salah sedikit, risikonya kebakaran atau korsleting. Dan jelas, nggak bakal lolos uji legal.
- “Pokoknya baterai gede, biar jauh.”
- Baterai itu paling mahal. Mending pilih kapasitas yang sesuai kebutuhan harianmu. Buat di Jakarta, 60-100 km udah cukup.
- “Ini cuma buat orang kaya.”
Jadi, Ini Cuma Tren atau Masa Depan?
Sulit bilang. Tapi buat gue pribadi, ini lebih dari sekadar gaya. Ini tentang gimana kita bisa mempertahankan romantisme dan karakter otomotif klasik, sambil tetap bergerak maju ke arah yang lebih ramah lingkungan .
Ibaratnya, kita nggak harus matiin masa lalu buat hidup di masa depan. Kita bisa bawa masa lalu itu—dengan mesin yang lebih bersih dan lebih hemat.
P.S. Kalo kamu punya mobil klasik, coba deh mulai lirik opsi restomod EV. Bukan berarti kamu ninggalin mesin bensin selamanya. Tapi setidaknya, kamu punya pilihan buat jalan-jalan di Jakarta tanpa bikin langit makin hitam. Dan siapa tau, suatu hari nanti, kamu bisa bangga bilang: “Mobil gue sih lawas, tapi jaman now!”
